(Gol A Gong)
![]() |
Gambar diambil dari sini |
Beberapa menit kemudian aku dan techno sudah melesat di jalanan. Membelah
jalan Cimahi menuju Padalarang. Setiap kali akan pulang ke rumah di
Cikalongwetan (kamu pasti kesulitan mencarinya di peta, tak apa tak perlu
dicari, tapi kalau kamu berkunjung boleh mampir
ke rumahku, ya!), aku harus melewati Padalarang. Disinilah terdapat
pabrik kertas pertama di Indonesia.
Dahulu Padalarang tidak seramai ini,
tidak semacet ini. Sekarang jalan disini padat sekali oleh rupa-rupa kendaraan.
Bahkan setelah gerbang tol, kendaraan harus mengambil jalan memutar di daerah
Kota Baru Parahyangan. Konon ini merupakan ‘kota baru’ dengan spirit kota
pendidikan yang diharapkan memberikan kontribusi bagi masyarakat Bandung.
Benarkah begitu? Entahlah, silahkan dinilai sendiri. Disini kamu bisa menemukan
hunian yang terdiri dari perumahan berkepadatan rendah, menengah dan tinggi, condominium,
apartemen, town house yang dilengkapi dengan fasilitas kota bisnis
seperti Office Parks, Open Mall, hotel, ritel, dsb. Dan rekreasi
seperti arena rekreasi air, jogging track, 18 holes golf course, hotel
resort, pasar seni, dan sarana pendidikan yang akan tersedia dari play
group hingga universitas. Terdapat rumah sakit dan mesjid yang megah juga.
Biasanya setiap kali pulang, setelah keluaran
gerbang tol Padalarang aku akan berbelok ke kanan : jalan forbidden. Aku akan lewat jalan satu arah yang mestinya tidak boleh
kulewati demi mempersingkat waktu tempuh. Jangan ditiru ya, ini tidak baik!
Ide itu melesat begitu saja. Setelah
lampu merah di dekat gerbang tol Padalarang, stang motor kuarahkan lurus saja.
Tiba di Kota Baru Parahyangan, kuarahkan motorku ke area Kota Baru Parahyangan.
Jarum speedometer stabil di angka 20
km/jam. Sengaja kukemudikan techno-ku
lambat-lambat : menikmati perjalanan. Sekolah dengan judul international school, rumah sakit, dan entah apa lagi terus kulalui
di sisi kanan dan kiri jalan. Aku sempat membuat laju motorku sangat lambat
saat melewati tugu kerbau. Terdapat patung kerbau yang dinaiki anak gembala
serta sebuah keluarga petani, tampaknya mereka baru saja pulang dari sawah.
Takjub aku melihatnya. Begitulah Indonesia yang negara agraris ini dulunya.
Mungkin lebih tepatnya begitulah Paris
van Java ini dulunya.
Setelah melewati jembatan, aku
berhenti sejenak. Jembatan inilah tempat syuting video klip ‘Menghapus Jejakmu’
yang dipopulerkan Peter Pan itu. Aku
menimbang-nimbang, memutar balik motorku ke arah gerbang lalu pulang atau terus
menjelajah? Tak jelas mau kemana, ide itu muncul begitu saja. Aku berbelok ke
kiri. Terus melaju masih dengan kecepatan 20 km/jam saja. Diantara teduh
pohonan, kudapati dua orang perempuan sedang menyapu daunan kering. Kuhentikkan
motorku.
“Punten,
Bu, bade tumaros.”1, kataku setelah tersenyum lebih dulu. Kedua
perempuan itu tersenyum, pertanda mereka tak keberatan berbagi informasi denganku.
“Upami teras ka palih ditu, kaluarna dimana
nya, Bu?”2, sembari
kutunjukkan sebuah arah yang hendak kutuju.
“Oh
ka palih kidul jalan buntu, Neng. Neng bade kamana?”3
“Ah
henteu, Bu, hoyong amengan…”4
“Tiasa
Neng upami jalan-jalan hungkul mah, ke di kidul jalanna buntu, upami bade teras
kedah meuntas cai, kedah naek bargas.”5
“Naek
bargas? Teras kamana, Bu, upami naek bargas? Ieu abdi nyandak motor tiasa
dititipkeun kitu?”6
“Naek
bargas ka Batujajar atanapi Cililin, Neng. Motor tiasa dititipkeun di pos satpam.”7
Perbincangan itu terus berlanjut. Aku
sengaja tak segera beranjak. Sekadar menikmati gerakan harmonis perempuan paruh
baya itu, yang begitu sabar menyapu daun-daun yang gugur. Mesin motor telah
lama kumatikan. Aku asik menyimak cerita perempuan yang kemudian kuketahui Nani
namanya. Wajahnya mulai keriput, tapi tekadnya tak ikut keriput. Daya juangnya
tak ikut pudar, meski kecantikannya sudah entah sejak kapan memudar.
“Ibu
mah tos sapuluh tahun damel janten tukang sapu kieu teh. Ti putra ibu yuswa
sataun. Ngawitan damel mah gaji teh mung sabelas rebu lima ratus sadinten,
Neng. Gaji teh teras majeng, ah teu ageung, majeng dua rebu lima ratus sataun.”8,
perempuan itu menjeda kalimatnya. Khusyu menyapu daun. Aku masih menunggu.
Berceritalah! Cerita apa saja, Bu. Ajari aku tentang hidup. Ajari aku tentang
apa saja.
“Neng,
ke ameng atuh ka bumi Ibu. Bumi Ibu caket, ti dieu ge katinggal…”9,
katanya sembari menunjuk suatu arah. Aku mengangguk. Semoga suatu hari aku bisa
sungguh-sungguh menemui ibu di rumah, doaku pelan. “Ayeuna teh Neng PT teh bade ngabangun deui perumahan saportos kieu,
bumi ibu ge bade dipeser, ditawis lima juta, mung ibu teh keukeuh alim ngical. Tatanggi mah seueur nu
tos diical bumina ka PT. Ibu mah alim, bade ngalih kamana? Ayeuna mah ngadamel
bumi awis, ibu pan tos papirak sareng caroge, putra ibu lima Neng. Janten
tukang sapu teh satekah polah hoyong barudak sakola.”10, aku
miris mendengarnya. Dadaku seketika terasa berat.
Sebenarnya aku ingin lebih lama
disini. Tapi, sms dari mama
mengingatkanku untuk segera pulang.
“Bu, naek bargas sabaraha pangaosna?”11, aku masih penasaran
soal bargas.
“Ah,
Neng, Neng mah tamu upami bade jalan-jalan mah mangga, tong naek bargaslah, cai
nuju caah, ka tamu mah sok aya nu ‘ngaganggu’ ”12, sambar
perempuan kedua yang sejak tadi lebih banyak diam. “Nasib mah teu terang, sok seueur ‘kajadian’ nu atos-atos oge, bisi
tibalik.”13
Ada perasaan tak puas. Penasaran
sekaligus khawatir. Aku ingin mencoba naik bargas, menyebrangi sungai, aliran
sungai Citarum. Namun, mitos yang disampaikan perempuan itu membuatku harus
menimbang dengan matang. Aku berpamitan sambil bayangan asiknya naik bargas
masih menggelayutiku. Ah sudahlah! Sekarang pulang dulu, temui mama dan bapak.
Soal bargas bisa besok-besok.
Rumahku Surgaku, 14 Juli 2012
~Icha Planifolia~
Catatan :
1) Permisi, Bu, saya mau tanya.
2) Kalau terus jalan ke arah sana, nanti
keluar di daerah mana ya, Bu?
3) Oh ke selatan jalan buntu, Neng. Neng
mau kemana?
4) Ah nggak,
Bu, cuma pengen main.
5) Kalau sekadar jalan-jalan bisa, Neng,
ke selatan jalannya buntu, kalau mau terus jalan Neng harus nyebrang sungai, naik
bargas.
6) Naik bargas? Kalau naik bargas nanti
sampai mana, Bu? Saya bawa motor, apa ada tempat penitipan?
7) Naik bargas ke Batujajar atau Cililin,
Neng. Motor bisa dititip di pos satpam.
8) Sudah sepuluh tahun Ibu bekerja
sebagai tukang sapu. Sejak anak Ibu berumur satu tahun. Pertama kerja gaji yang ibu terima sebelas ribu lima ratus
per hari, Neng. Gajinya terus naik, gak
besar memang, hanya dua ribu lima ratus per tahun kenaikannya.
9) Neng main ke rumah Ibu, rumah Ibu
dekat dari sini juga kelihatan.
10) Sekarang ini PT akan membangun lagi
perumahan seperti ini, rumah Ibu juga mau dibeli, ditawar lima juta. Tapi Ibu
tetap gak mau. Tetangga Ibu banyak
yang rumahnya sudah dijual ke PT. Ibu gak mau, mau pindah kemana? Sekarang
bangun rumah mahal, Ibu kan sudah
cerai dengan suami, anak Ibu lima, Neng. Sekuat tenaga (Ibu) bekerja agar
anak-anak bisa sekolah.
11) Bu, naik bargas berapa biayanya?
12) Ah Neng, Neng kan tamu (baca : bukan penduduk asli daerah tersebut) kalau mau
jalan-jalan silahkan, gak usah naik
bargas, airnya sedang tinggi, kalau tamu suka ada yang ‘mengganggu’.
13) Nasib kan kita gak tahu, yang
sudah-sudah suka banyak ‘kejadian’, khawatir terbalik (bargasnya).
Pernah beberapa kali ke Kota baru Padalarang dulu waktu temen aku jadi mandor di sana, sekarng udah rapih yaaa?
BalasHapusBargas aku ko baru tau yaaa :)
Sama, aku juga baru tahu di tempat pemberhentian bus kotabaru itu ada bargas untuk menyebrang ke daerah Cililin :)
Hapusaiiihhh.... ada "ahaaa" di kepalaku.
BalasHapustergerak dengan kalimat Gol A Gong di awal, setuju banget, sejak lama aku pengen bikin novel dengan setting Gununghalu macam Belitong di Laskar Pelangi gitu.heheh
so inspiring icha, dimulai dengan tulisan2 ringan seperti ini juga menarik :)
Let it be! :)
Hapus