Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Mei 2012

Mak Dahlan Mengajarkanku...


Tawa terus berderai disela tangan yang tak henti memijat. Punggung perempuan itu mulai kemerahan menerima pijatan. Masuk angin parah, begitu tutur sang nenek yang masih bercerita sambil tertawa.

Mak Dahlan namanya. Ia begitu setia dengan pekerjaan yang dilakoninya : tukang pijat. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak empat puluh empat tahun silam. Kesetiaan pada perjuangan hidup yang tak perlu lagi diragukan.

Minggu, 08 April 2012

Kuliah Kebun Teh


Menjauh dari hingar bingar perkotaan begitu menyenangkan. Terlebih karena aku menghabiskan malam dalam dekapan kasih dua orang yang menjadi perantaraan aku hadir di dunia ini, bapak dan mama.

Kubuka pintu pagi yang beku. Gegas memburu kamar mandi. Hari ini aku ingin menikmati hijaunya perkebunan teh. Sejuknya air meresap. Mengantar rasa damai melalui pori-poriku.

Setelah melewati gang, kini aku berada di jalan utama. Tentu jalan utama disini tidak seperti jalan utama di jalan soekarno-hatta atau jalan gatot subroto, di pusat kota bandung sana. Jalan utama disini tidak lebih dari sebuah jalan yang cukup dilalui dua kendaraan (dari arah berlawanan). Jalan ini sama sekali tidak padat, sangat jauh dari kesan ramai.

Aku menghentikan langkah di pertigaan. Di hadapanku tampak sebuah jembatan. Jalan tol. Semenjak keberadaannya, banyak hal yang berubah dengan kondisi desa ini. Cuaca berubah. Saat pembangunannya cukup banyak penebangan pohon, sehingga kini panas lebih sering mengakrabi penduduk desa ini.

Kondisi ekonomi pun berubah.  Sebelum jalan tol itu rampung dibangun, jalan desaku ini menjadi jalan utama perlintasan kendaraan dari Bandung menuju Jakarta. Banyak sekali kendaraan yang melintas, baik kendaraan umum seperti bus maupun kendaraan pribadi. Penduduk desa ini banyak yang bermata pencaharian sebagai penjual kerajinan dan makanan oleh-oleh seperti, peuyeum, manisan, dll. Banyak pula yang mempunyai rumah makan. Karena seringkali bus atau kendaraan pribadi itu singgah disini, untuk sekedar mengusir rasa lapar atau pun membeli oleh-oleh. Dan kini banyak sudah yang gulung tikar, karena banyak orang lebih memilih menempuh perjalanan melalu jalan tol. Jalan yang dikatakan bebas hambatan itu. Kuhembuskan nafas yang berasal dari keentahan. Ketidakmengertianku tentang keadaan. Demi efisiensi waktu atau entah demi apa jalan bebas hambatan itu dibuat. Yang pasti dengan keberadaannya, banyak yang terbantu dan banya juga yang merasa buntu.

Sebuah angkutan pedesaan berhenti persis di hadapanku. Aku naik berbarengan dengan seorang laki-laki paruh baya. Aku mengambil tempat duduk di samping seorang pedagang yang sibuk dengan barang dagangannya. Potongan buah-buah segar, tahu sumedang, telor puyuh, mainan anak, dan masih banyak lagi, semua dikemas dalam plastik kecil dan biasanya dijual dengan harga seribu rupiah per bungkus.

Angkutan pedesaan ini terus melaju dengan kecepatan sedang. Melalui tanjakan yang disamping kirinya berjejer rumah penduduk, sementara di sebelah kanan jalan dihiasi pohon bambu. Angkutan yang kutumpangi tiba-tiba saja berhenti. Hiruk pikuk manusia. Kulirik keluar jendela. Pantas saja, ternyata kami sampai di kawasan pasar tradisional. Ramainya orang membuat angkutan yang kutumpangi tak dapat bergerak dengan leluasa.

Lepas dari hiruk pikuk pasar.  “Kiri!”, kataku memberi kode kepada pengemudi angkutan desa ini untuk menginjak pedal rem. Aku turun setelah sebelumnya memberikan uang receh dua ribu-an kepada kernet yang sedari tadi bergelantung di pintu mobil menawarkan jasa kepada calon penumpang.

Sebelum benar-benar turun dari angkutan desa tersebut, telingaku sempat menangkap komentar sang kernet yang membentuk lagu tidak jelas, bunyinya “Lari pagi…Lari pagi…”. Mungkin karena melihat celana training, kaos, dan sepatu sport yang kukenakan.

Aku menyebrangi jalan. Menuju sebuah jalan tak beraspal. Di kiri dan kanan jalan terdapat kebun teh. Udara sejuk mulai berebut masuk kedalam paru-paruku. Hal yang terasa sangat mahal saat berada di tengah kota yang hidup dengan berjuta kendaraan. Aku menikmati tiap tarikan nafas.

Aku membagi senyum pada seorang gadis kecil yang berada di kiri jalan. Dia tengah duduk pada sadel sepeda gunungnya. Melihat postur tubuh dan raut wajahnya, kutaksir dia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Sang gadis kecil membalas senyumku. Aku bersumpah senyum dan sapa jauh lebih murah disini.

Tiba di sebuah jembatan besar. Di bawah jembatan ini terdapat jalan tol. Banyak sekali orang disini yang selintas saja dapat ditebak, mereka baru saja selesai lari pagi. Terlihat dari wajah letih dan pakaian yang kuyup dengan keringat. Ada sekelompok anak muda yang duduk sambil meluruskan kaki mereka, sesekali mereka bertukar canda. Ada beberapa pasangan muda dengan buah hati mereka. Aku melewati kerumanan orang yang sedang beristirahat di jembatan itu.

Kali ini jalan yang kulalui seluruhnya adalah perkebunan teh. Terdengar suara burung dan berbagai makhluk lain. Indah. Terdengar harmonis. Suara mereka meningkahi suara angin yang halus. Aku mulai berlari-lari kecil. Mengikuti jalan batu yang berkelok-kelok. Suara kerikil yang beradu dengan sapatuku menciptakan suara khas.

Telingaku menangkap celotehan-celotehan yang belum kuketahui dari mana sumbernya. Menyelesaikan satu tikungan, dihadapanku tampak segerombolan remaja. Rampung sudah rasa penasaranku. Kegaduhan itu berasal dari segerombolan remaja yang sedang sibuk mengoper bola sambil berlari-lari kecil.

Aku mempercepat langkah kakiku saat aku melewati segerombolan remaja itu. Ada sebuah “tonjokan” halus yang kurasai mendarat di ulu hatiku. Menyisakan nyeri yang tak seberapa namun sedih yang dalam. Jelas kulihat beberapa dari mereka mengenakan celana pendek berwarna biru, yang aku bisa ingat dengan fasih itu adalah seragam siswa sekolah menengah pertama. Salah satu diantara mereka menggenggam hp yang sedang mengalunkan musik melayu. Yang membuat aku tertegun adalah tangan kanan anak remaja itu. Sebuah rokok putih bertengger manis disana. Dan dia dengan santai menghambur-hamburkan asapnya ke udara. 

Menyadari keberadaanku, mereka menghentikan permainan bola dan memberi aku jalan. Dan ketika aku persis ada di hadapan mereka yang masih terus bertukar canda, mereka menggodaku. Aku sungguh tak percaya, mereka menggodaku seolah aku ini seorang pramunikmat. Salah satu diantara mereka mengangkat alis, menyeringai, “Ayo bersenang-senang!”, katanya. Disambut tawa membahana yang lainnya. “Bersenang-senang sampai berkeringat. “, timpal yang lain. Lagi-lagi disambut tawa keras. Aku susuri pakaian yang kukenakan. Semua serba panjang, dan cukup longgar untuk tidak membuat bentuk badanku terlihat jelas. Aku merajuk pada Tuhan agar berkenan melindungiku. Sudut mataku mencuri pandang sekitar. Sepi. Hanya ada aku dan mereka. Aku gegas mempercepat langkah. Meninggalkan mereka yang masih terus terbahak. Tawa yang seketika membuat aku jengah dan ingin muntah.

Bertemu dengan meraka membuat aku ingin segera mengakhiri tamasya ini. Padahal sungguh hamparan hijau kebun teh masih memikatku. Sejuk udara dan nyanyian burung masih memasung kekagumanku akan kuasa Tuhan. Tapi aku tak bisa bertaruh lebih lama, keselamatanku lebih utama. Disini terlalu sepi dan jauh dari keramaian. Fikiran yang tak kubiarkan bertahan lama, segera kuusir sejuta prasangka. Kuputar arah melalui jalan berbeda, menuju jalan pulang.

Lega menghampiriku saat sudah kembali tiba di jembatan dan masih ada banyak orang disana. Ya Tuhan! Segera kukemasi suara yang nyaris keluar dari mulutku. Aku bertemu dengan dua orang remaja. Kuulangi, lagi-lagi remaja. Entah duduk di bangku sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas. Yang bisa kutangkap adalah dua anak remaja beda jenis.

Mereka duduk di sebelah kanan jalan yang kulalui. Benar-benar abai dengan sekitar. Remaja perempuan itu terlihat begitu manja. Tangan mereka saling menggenggam. Kukira cukup sampai disini, ternyata tidak. Tubuh mereka merapat, dan mereka kini sibuk bertukar lilitan lidah pahit. Tuhan! Sekali lagi aku mohon ampun pada-Nya, atas ketidakmampuanku berbuat apa-apa.

Seketika rasa mual menyerangku. Mual sekali melihat adegan itu. Dan aku bisa pastikan mereka masih abai dengan sekitar, sekalipun aku sudah tak menoleh ke arah mereka. Aku berjalan dengan sangat cepat. Pandanganku lurus kedepan. Meninggalkan jejak-jejak yang memasungku dalam keentahan. Ketidakmengertian tentang keadaan. Oh Desaku!
***

Cikalongwetan, 8 April 2012
~Icha Planifolia~

Kamis, 29 Maret 2012

Goresan Cinta Bapak



Rindu selalu membekapku. Keteguhannya untuk terus memeluk batinku, membawa langkah-langkahku untuk selalu kembali pulang ke rumah sederhana ini, tak perduli telah sejauh apapun aku merantau di luar sana. Bangunan ini tentu tak memadai untuk disebut bagus apalagi mewah, namun rasa rindu yang sangat selalu dengan magis menarikku kembali kesini. Di balik dinding rumah yang mulai mengusam inilah aku dibesarkan.

Rindu selalu melingkarkan tangannya yang halus pada kedalaman hatiku. Membawa diriku kembali menemui dua orang yang kini sudah tak muda lagi. Dua orang yang tulangnya mulai merapuh, langkahnya mulai melemah. Mereka yang mungkin bagi banyak orang terkesan sangat biasa, namun selalu ada rindu yang megah kumiliki untuk mereka. Dari merekalah pertama kali aku berlajar tentang kehidupan.

Disinilah aku kini, menyelesaikan rindu yang menyiksaku dalam pertemuan-pertemuan yang tertahan.

Lepas isya, lelaki yang kini sudah mulai menapaki usia lebih dari setengah abad berjalan menuju serambi. Diambilnya posisi duduk di tempat favoritnya. Rambutnya banyak sudah yang mulai memutih. Aku memanggilnya bapak. Ada jutaan kasih kumiliki untuknya, meski mungkin tak senilai dengan bermilyar bahkan bertrilyun kasih yang dimilikinya untukku.

Aku mengikuti langkahnya menuju serambi. Kuambil posisi duduk disamping meja yang menjadi sekat antara kami.

“Nis, Bapak punya sesuatu.”, aku mengernyitkan dahi.

“Apa, Pak?”

“Sebentar...”, kalimat bapak menggantung. Bapak bangkit dari duduknya. Tak berapa lama, bapak kembali dengan ‘sesuatu’ di genggamannya. Aku diliputi rasa penasaran. “Ini untukmu.”, kata bapak kemudian seraya menyodorkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Warnanya yang keemasan memberi kesan kotak itu bernilai. Setelah membagi senyum hangat yang selalu aku rindukan, bapak berlalu meninggalkan aku yang masih memandangi kotak itu.

Kubuka perlahan. Didalam kotak tersebut terdapat sebuah foto. Sepertinya foto itu sudah cukup tua usianya. Foto itu memuat gambar seorang bayi gemuk sedang tengkurab. Dapat kukenali bahwa itu adalah aku.

Ternyata tidak hanya satu, masih ada foto lain disana. Masih foto seorang bayi –lebih tepatnya balita mungkin- yang sudah mulai bisa berdiri. Sepertinya foto itu di ambil saat bayi gemuk itu berusia satu tahun. Namun, kali ini sang bayi tak sendirian, bayi itu berdiri dipegangi seorang perempuan muda. Dapat kukenali bahwa itu adalah aku dan ibuku. Sesungging senyum terpahat di bibirku melihat dua foto itu.

Tidak selesai sampai disana. Masih terdapat sebuah kertas yang terlipat rapi. Dengan rasa penasaran yang sangat kubuka lipatan kertas tersebut.

Untuk Ananda, Nisa

Terlebih dahulu kusampaikan rindu yang selalu menemuiku tiap malam. Saat kau jauh disana menuntut ilmu. Bukan hanya aku, ibumu pun selalu disergap rindu yang hebat, hingga bahagia tak dapat kami hindari saat kau kembali hadir di rumah ini, seperti saat ini.

Aku tersenyum haru membaca satu paragraf tulisan bapak. Rasa penasaran semakin menyerbuku. Kembali kuedarkan pandang mataku pada huruf-huruf yang ditulis oleh tangan bapak, meski tulisan bapak tak bisa dikatakan bagus, tapi cukup rapi untuk dapat kubaca dengan baik. Dan yang terpenting cukup membuatku semakin mencintai bapak.

Nak, kau pernah melihat matahari terbit lalu tenggelam di sore hari? Atau kau pernah melihat bunga mekar kemudian layu? Atau kau pernah melihat daun segar di tangkai pohon sebelum akhirnya jatuh berguguran? Tidakkah kau melihat kenisbian, Nak? Semua serba sementara.

Anakku, begitulah sesungguhnya hidup. Suatu saat kita akan kedatangan ‘tamu’. ‘Tamu’ ini akan menjemput kita meninggalkan segala kefanaan menuju hidup yang kekal. Pertemuan dengan ‘tamu’ ini yang kita namakan kematian.

Jangan gegas merasa takut mendengar kematian, Nak! Tak perlu pula kau khawatir. Karena perasaan semacam itu tidak akan membuatmu terhindar darinya. Itu hanya fase dari siklus hidup yang pasti kita lalui. Ya...berpisahnya jiwa dengan raga pasti akan kita alami. Perpisahan ini mengantarkan raga kita kembali menyatu dengan tanah, sementara jiwa kita kembali pada Tuhan yang memilikinya.

Kita akan dihadapkan dengan sebuah penantian panjang, Anakku. Menanti pengadilan yang paling adil. Jiwa kita akan berada di sebuah tempat yang gelap dan sepi. Lengang. Sendiri. Tak ada keluarga, tak ada kerabat. Akan ada berbagai perasaan menyergap kita. Mungkin perasaan kesepian, ketakutan, kekhawatiran, dan perasaan lain –entahlah- apalagi. Kau tahu dimana penantian panjang itu, Nak? Nun disana...di alam barzakh, Sayang.

Aku berhenti sejenak. Kuhembuskan nafas yang tiba-tiba terasa berat. Lalu kubiarkan mataku kembali menyusuri kata demi kata yang mengajakku tamasya ke tempat yang antah berantah.

Tenang, Anakku. Kau tidak perlu khawatir. Tempat itu dapat berubah menjadi tempat yang terang, juga akan ada yang dengan senang hati menemani. Bukan. Bukan aku atau ibumu. Meskipun kau tak perlu ragukan cinta kami. Kami sungguh sangat mencintaimu. Tapi bukan kami yang dapat menemani.

Setiap kebaikan yang kau ukir, Nak...mereka akan setia menemanimu. Sisa malam yang kau habiskan dengan memuji dan mengagungkan Tuhan, atau waktu terik siang dimana kau rela untuk menjeda aktivitasmu demi bersujud pada Tuhan, atau waktu dini hari dengan dingin yang menyucuk kau lewati dengan bibir basah menyebut nama Tuhan. Itu semua akan setia menemani dan menerangi, Nak.

Kau pasti bertanya-tanya untuk apa aku menulis ini. Karena ada hal yang sangat penting yang perlu kusampaikan padamu, Anakku. Aku memang tak mampu menemanimu dalam penantian panjang menunggu putusan Tuhan atas diri kita, pun ibumu tak mampu menamanimu. Sebaliknya denganmu, Anakku sayang. Kau akan bisa menemani kami disana. Maka, kali ini kukatakan padamu Nak, kami sangat membutuhkanmu. Kami butuh kau menemani kami kelak.

Kami butuh kau tumbuh dan menua dalam kelurusan perilaku, Sayang. Karena hanya itu yang bisa menjadi jembatan, saat aku atau ibumu sudah lebih dulu menemui Tuhan. Rajukanmu tentang keselamatan kami akan didengar Tuhan, jika kau terus hidup dalam kelurusan perilaku. Kelak, itu akan menjadi lampu bagi kami, sehingga penantian panjang yang harus dilalui aku dan ibumu tak terlalu mencekam.

Sekali lagi kusampaikan padamu, aku dan ibumu membutuhkanmu, Nisa sayang. Membutuhkan Nisa yang tumbuh dan menua dalam kelurusan perilaku. Juga membutuhkan kesediaanmu untuk merajuk setiap saat pada Tuhan, untuk terus merengek pada  Tuhan agar ampunan dan keselamatan menghampiri kami, aku dan ibumu.

Ditulis dengan penuh cinta
Juga berurai sejuta doa
             Bapak


Hatiku gemuruh. Ada perasaan  yang tak mampu aku jabarkan. Aku dikepung perasaan syukur, tegang, semangat, dan banyak perasaan lain yang turut serta mengepungku. Aku merasa disiram dengan lebih dari bertrilyun kasih sayang. Aku juga merasa dibawa melayang ke medan perang, dihadapan musuh yang aku tak punya pilihan lain kecuali menang. Seketika tumbuh daya juang yang luar biasa dalam diriku.

Kupandangi sekali lagi gambar bayi yang tampak lucu, yang tak lain adalah aku dua puluh tahun yang lalu. Lirih batinku berucap.  Aku berjanji aku akan menemani bapak dan ibu dalam penantian panjang itu. Dan aku pun akan memastikan, aku memiliki teman dalam penantian panjang itu.

Butir-butir bening yang tak kufahami mengapa harus berebut keluar, akhirnya kubiarkan membuat basah pipiku. Kunikmati selaksa rasa yang tak terdefinisi ini. Satu hal yang kufahami dengan penuh kesadaran, bahwa segenap syukur akan selalu kulantukan pada Tuhan karena bersedia mentakdirkan aku didampingi oleh bapak dan ibu. Dua orang yang selalu memastikan aku berada dalam kelurusan perilaku.

Tak kusadari bapak sudah ada disampingku. Disentuhnya pelan pundakku. Kudongakkan wajahku. Mata teduh bapak menembus manik mataku, mengantar trilyunan kasih. Kuletakkan kertas berisi tulisan bapak yang menyulut bara di dadaku. Bara yang menjadi bekal untuk tumbuh dan menua dalam kelurusan perilaku, seperti yang dikatakan bapak.

Kini aku berdiri tepat di hadapan bapak. Lelaki yang jadi perantaraan keberadaan aku di dunia. Lelaki inilah yang kutinggalkan selama berbulan-bulan demi menuntut ilmu. Dari bibirnyalah ada kumandang doa yang tak kering untukku. Aku menghambur ke pelukan bapak. Aku benar-benar kuyup dengan kasih sayang bapak.

Kamar Sunyi, 24 Maret 2012
23.07

Rabu, 21 Maret 2012

Keterampilan Terbaikku Adalah Diam



Setiap hari kelebat bayangmu muncul.

Aku memang belum mengenalmu. Belum kuketahui dari rahim siapa kau dilahirkan, lalu dalam kondisi seperti apa kau dibesarkan. Belum kuketahui seperti apa aktivitasmu atau bagaimana teman-temanmu. Pun aku belum mengetahui bagaimana perangaimu sesungguhnya. Kutegaskan sekali lagi aku belum mengenalmu.

Belasan hari sudah berlalu sejak kali pertama aku bertemu denganmu. Walaupun sebagian mengatakan bahwa generasi muda hari ini adalah generasi gombal, tapi sungguh aku tak berminat untuk menggombal. Hanya aku sangat tertarik untuk jujur padamu bahwa hingga hari ini aku masih sanggup mengingat sorot matamu, senyummu, kulit coklatmu, pakaian yang kau kenakan hari itu, dan seluruhnya. Seluruhnya tentang dirimu hari itu, aku sanggup mengingatnya.

Aku sungguh masih ingat sorot matamu yang menyandera rasa kagumku, senyum sahaja yang menawan kecenderungan perasaanku, juga kata-katamu yang memenjarakan asaku dengan purna. Hingga kini hatiku terpaut padamu yang bahkan belum aku kenal. Lalu harus kurelakan hari-hariku didekap gelisah karena harus menggendong jutaan harap. Juga karena rindu ini meringkusku tanpa ampun.

Sejujurnya aku merasa ini gila. Bagaimana bisa aku harus cenderung padamu yang baru satu kali kujumpai, itu pun tak sengaja. Bahkan kita tak sempat berkenalan secara langsung. Aku hanya tahu bahwa hari itu kau ada di hadapanku, sebaliknya kau tahu aku ada dihadapanmu. Tak ada sapaan khusus. Tak ada bertukar nama apalagi nomor telepon. Tak ada. Aku tahu namamu karena temanmu menyebutkannya,  dan itu terlalu jelas hingga dapat kudengar dengan baik. Kini, dalam kamar mungilku aku menikmati kegilaan ini. Menikmati proses menggilai dirimu dalam diam.

Juga disini -di kamar mungil ini- terkadang kuhabiskan sisa malam untuk berbincang dengan Tuhan. Sekedar merengek agar Tuhan selalu melindungimu yang tak nampak di mataku. Atau di lain waktu aku merajuk agar jika aku yang sangat biasa ini layak berdiri disampingmu yang luar biasa, semoga Tuhan bersedia mengizinkan aku dan kau berdiri berdampingan. Mengarungi sisa takdir bersama. Membagi rasa di sisa usia yang Tuhan beri. Tak jarang aku menangis, saat tiba-tiba perasaan serba tak pantas menyergapku. Saat kesadaran tentang diriku -yang tak cantik, tak terlalu cerdas, tak pandai memasak, dan berakhlaq sangat biasa- mengepungku, tak bisa lagi kuhindari air mata saat detik-detik seperti itu mengerubutiku. Dan dihadapanku bayangmu dengan sorot mata dan senyum sahajamu kembali muncul. Entah bagaimana rupa, aku yang tak mengenalmu bisa sedemikian percaya bahwa kau mampu. Mampu menopang perjalananku menyebrangi jurang, membimbingku hingga Tuhan menyatakan waktu kita habis. Mampu kembali menjemputku di taman –yang menurut kabar- indahnya tak terkatakan. Taman yang disiapkan Tuhan dengan tiket masuk yang sangat khusus.

Ingin kuhempaskan nafas ini sekuat yang kubisa. Sekedar agar harap dan rindu menjauh barang sejengkal. Aku sungguh-sungguh tak tahu bagaimana cara menyampaikan padamu, bahwa disini aku sangat menantikan kehadiranmu. Keterampilan terbaik yang kumiliki saat ini adalah diam. Maka, aku mohon dengan sangat, jemputlah aku. Aku mohon dengan sangat. Kau boleh berbagi sedikit kepercayaan denganku bahwa aku akan telaten menunggumu.

Kamar Sunyi, 21 Maret 2012
13.34

Selasa, 20 Maret 2012

Kepada Pendampingku (Dimanapun Engkau Berada Kini)

Malam baru memulai perjalanannya. Masih di awal. Lantunan merdu dari sebuah speaker tak jauh dari rumahku belum lama terdengar. Kami gegas menyongsong panggilan itu. Khidmat. Hening. Melalui suara sang imam semua orang dikomando untuk mengubah gerakan. Berdiri tegak. Membungkuk. Bersujud. Usai mengucapkan salam setiap orang tenggelam dalam dialog dengan Tuhan. Entah apa yang disampaikan. Mengadu mungkin, atau mengeluh, merajuk, merayu, memuji, memohon, apapun itu. Dialog itu yang pasti akan sangat berharga bagi setiap pribadi.

Pintu kamarku diketuk beberapa kali. Aku membukanya perlahan. Bapak menyungging senyum. “Mau ngobrol?”, sebuah pertanyaan yang sebenarnya bersifat wajib. Artinya ada hal yang ingin bapak sampaikan, namun demi terjaganya azas demokrasi kewajiban itu dibalut dalam bentuk pertanyaan. Tanpa rasa keberatan aku mengangguk. Mengikuti langkah-langkah bapak menuju ruang depan.

Disinilah kami sekarang. Duduk berhadapan di ruang depan. Sesekali bapak mendekatkan gelas berisi kopi susu ke mulutnya, meneguknya perlahan. Terlihat nikmat sekali.

“Tidak terasa ya…kamu sudah besar.”, bapak menjeda kalimatnya. Aku masih menunggu. Mencoba menerka kemana arah pembicaraan ini akan bermuara. “Nak, menurutmu memilih itu harus antara dua atau lebih, atau ketika berhadapan dengan satu hal pun kita dapat memilih?”

Mendengar pertanyaan bapak keningku berlipat-lipat. Sama sekali tidak faham. Melihat ekspresi bingung di wajahku bapak tersenyum. Menyandarkan badannya pada senderan kursi, lalu merubah pertanyaannya.

“Kamu sudah besar, Nak, cepat atau lambat kamu akan harus memutuskan…”, bapak berdehem. “Memutuskan akan menerima pinangan seseorang.”, aku mulai bisa melihat kemana bapak mengemudikan laju pembicaraan ini. Aku masih mendengarkan dengan seksama. “Apa yang akan kamu lakukan saat ada yang datang meminang?”

Aku diam. Berfikir. Meski ini hanya obrolan antara aku dengan bapak, tapi kali ini aku merasa seolah sedang dalam lomba dimana tiap jawabanku dinilai oleh juri.

“Tentu aku akan mempertimbangkannya baik-baik.”

“Pertimbangannya seperti apa sampai kau memutuskan iya atau tidak?”

“Hmm…dilihat dari perilakunya…karena perilaku adalah cerminan kualitas iman dan ilmu seseorang, itu yang dipesankan nabi…”, khawatir keliru kutambahkan, “bukan begitu, Pak?”

Bapak manggut-manggut. “Bagaimana jika ada dua orang laki-laki yang perilakunya sama-sama baik dan keduanya datang meminangmu?”

Aku terdiam. Memandang dengan penuh harap kepada bapak, berharap segera diberikan solusinya jika hal itu benar-benar terjadi.

“Nak, dengarkan ini baik-baik, jangan pernah lupa melibatkan kekuatan Dzat yang Maha Menggenggam diri kita dalam setiap keputusan yang akan kita ambil. Berdialoglah dengan-Nya, adukanlah segala hal yang kau tidak memiliki ilmu tentang langkah apa yang harus kau ambil. Tidak hanya saat ada diantara dua pilihan. Satu pun toh hakikatnya kita sedang memilih ‘iya’ atau ’tidak’, maka kita jangan pernah sok tahu, selalu libatkan pengetahuan Tuhan yang tak terbatas.”

Aku mengangguk. Faham. “Tapi Pak…bagaimana kelak aku bisa tahu bahwa pilihanku tepat?”, demi mendengar pertanyaanku bapak terkekeh.

“Bapak punya cerita untukmu. Dulu, seorang kawan bapak sudah sampai usia yang cukup untuk menikah. Dia adalah laki-laki yang sangat lurus perilakunya. Saat hendak menikah pun, dia tidak mengotori kebersihan perilakunya dengan hal-hal yang memang Tuhan belum izinkan. Dia cukup percaya dengan sebuah kalimat ‘Kang, wanita ini adalah wanita baik-baik’. Baginya penilaian orang lain akan jauh lebih objektif dibandingkan pandangannya yang mungkin dipengaruhi perasaan. Dia menyetujui untuk menikahi wanita tersebut. Suatu saat, kawan bapak ini pergi ke luar kota. Di perjalanan pulang dia bertemu dengan seorang gadis, selintas, betul-betul hanya selintas. Gadis ini berasal dari daerah yang sama dengan calon yang diajukan oleh sehabatnya. Dia bimbang. Kebimbangan yang sama sekali tidak difahaminya. Karena dia tidak mengenal gadis ini, kenapa harus difikirkan. Namun, perasaan dia bicara hal berbeda. Tak ada lagi yang dilakukannya kecuali terus berdialog dengan Tuhan, pasrah. Entah bagaimana hatinya sangat condong pada gadis yang bahkan belum dikenalnya. Alhasil diputuskannya untuk membatalkan pinangan pada gadis yang sebelumnya, dia bergegas mencari rumah gadis yang dijumpainya selintas, meminang, dan menikahinya. Semua serba mudah karena dimudahkan oleh Tuhan.”, bapak berhenti sejenak. “Ada kalimat yang selalu Bapak ingat, kawan Bapak ini pernah berkata, bukan cinta yang membuat kita dapat hidup bersama selamanya dengan pasangan kita, tetapi kasih sayang dan kerelaan Tuhan atas diri kita dan pasanganlah yang membuat kita bisa bertahan bersama pasangan. Maka sangat penting berdialog dengan Tuhan saat kita akan mengambil sebuah keputusan. Apapun itu.”, sebuah senyum terukir di bibir bapak. Mungkin tengah nostalgia dengan kawan lamanya.

Diam-diam sesudut hatiku berkali-kali mengucap syukur. Betapa aku merasa kuyup dengan kasih sayang bapak. Betapa kesungguhan dalam penjagaan diriku ini menyatakan cinta yang tak terbantahkan. Bapak tengah memastikan aku tak keliru melangkah.

“Oh iya Nak, boleh Bapak minta tolong sesuatu?”, aku mengangguk mantap. Tentu saja. Mana mungkin aku akan sanggup menolak permintaan bapak, sementara kasih yang nyata telah ditunjukannya. Bapak tersenyum lega mellihat anggukan mantapku. “Bapak minta pengertianmu…”, bapak berhenti sejenak, meneguk kopi susu yang tinggal sedikit hingga tandas. “Kelak jika kau menikah bapak tak akan siapkan resepsi megah untukmu.”

Mata bapak menyusuri wajahku, mencari perubahan ekspresi yang mungkin muncul mendengar pernyataannya. Aku belum menunjukkan ekspresi apa pun, masih menunggu.

“Bapak hanya akan menyiapkan sebuah aula mesjid. Disana calon imam-mu akan mengucap janji tentang amanah yang akan dipikulnya, tentang takdir yang akan dijalaninya bersamamu. Seluruh tamu undangan hanya boleh datang saat pengucapan janji tersebut…saat akad pernikahan diucapkan, karena setalah itu tak akan ada acara apa pun. Setelah usai akad kita semua akan makan bersama sebagai ungkapan bahagia, setelah itu acara selesai.”, kembali bapak mencermati wajahku. “Apakah kau keberatan?”

“Apakah memang harus begitu?”

Bapak tersenyum. “Kamu jangan salah faham! Bukan Bapak tak menyayangimu, bukan Bapak tak faham bahwa menikah adalah momen yang mungkin tak akan dilupakan seumur hidup, tapi kita telah berjanji bahwa kita akan menghidupkan sunnah nabi.”

“Kalau begitu aku merasa cukup dengan apa yang Bapak tawarkan tadi.”, ucapku dengan senyum mengembang. Menahan haru. Semakin terasa siraman kasih bapak kepadaku. Bapak balas tersenyum.

Ada perasaan yang sulit sekali aku jabarkan menyergapku tiba-tiba. Debar aneh. Harap-harap cemas menanti keputusan Tuhan atas diriku.

“Nak, kelak jika ada laki-laki dengan perilaku yang baik mencerminkan iman dan ilmunya, melangkahlah kalian, jangan hiraukan perbekalan, jika manusia harus menyiapkan bekal di awal untuk perjalanan maka tidak begitu dengan logika Tuhan. Tuhan butuh manusia yakin dan melangkah baru kemudian Dia akan memberikan bekal pada kita di perjalanan. Yakinlah akan pertolongan Tuhan maka hidupmu tak akan pernah terasa kurang.”
***
Kepada pendamping hidupku…imamku…dimanapun engkau berada kini…
Kau sudah mengetahui bukan bagaimana aku dan keluargaku menunggumu? Bahwa kami tak akan tanyakan seberapa besar rumahmu, seberapa banyak kendaraan atau perusahaan yang kau miliki, kami hanya butuh tahu kau siap menjadi imam dengan segala kelurusan lakumu.

Kau sudah mengetahui bukan bagaimana aku dan keluargaku menunggumu? Bahwa kami tak akan tanyakan darahmu merah atau biru. Kami hanya butuh tahu kau siap menjadi imam dengan segala kelurusan lakumu.

Kau sudah tahu bukan bagaimana aku dan keluargaku menunggumu? Bahwa kami tak akan memperdebatkan tentang kulitmu yang putih atau coklat, tak akan meributkan tentang matamu yang sipit atau tidak. Kami hanya butuh tahu kau siap menjadi imam dengan segala kelurusan lakumu.

Kepada pendampingku…imamku…dimanapun engkau berada kini…
Jika kau telah merasa siap untuk menambah satu lagi amanah dalam hidupmu yang akan mengundang kasih sayang Tuhan ini, datanglah!
Jangan kau risaukan tentang diri yang belum mapan atau pekerjaan yang masih serabutan, karena Tuhan akan memberikan bekal saat kita sudah mulai berjalan.
Aku disini selalu mendoakanmu. Datanglah! Agar kita dapat berdoa bersama untuk impian dan kebahagiaan kita.

Ditulis dengan penuh cinta
(walau tak sempurna)
Nisa





Kamar sunyi, 11 Maret 2012      00.04
Icha Planifolia

#Terimakasih untuk Mama, Bapak, dan Ustadz Firman atas didikan yang luar biasa dan kasih sayang yang tak pernah habis…