Tampilkan postingan dengan label Fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

Sebait Kisah


Bandung berdandan too much. ‘Menor’. Jalanan kota kembang ini kini sesak sekali. Rupa-rupa kendaraan tumpah ruah. Malas sekali harus berada di jalan menjelang jam berbuka puasa : padat luar biasa! Tapi, apa boleh buat, pertemuan yang tertahan tentu melahirkan rindu yang menuntut untuk dituntaskan. Ya, karena rindu pada sahabat-sahabat semasa SMA saja aku rela berpadat-padat di jalan menuju Jl. Otten, buka bersama di Otten Inn.

Sungguh di luar dugaan, ini mengantarku untuk bertemu denganmu. Lama sekali kita tak berjumpa, sejak kau bertugas di tanah Serambi Mekah. Aku masih tak mempercayai bahwa kau yang ada di hadapanku malam itu. Sejak aku rutin menyeksamaimu di taman kota, kau yang asik menghabiskan berhalaman-halaman firman Tuhan, aku sudah merasa kalah. Aku merasa tak pantas. Bahkan untuk sekadar meminta agar Tuhan menyandingkan kita, lidahku kelu. Maka, perjumpaan denganmu tentu hal yang selalu kuhapus dari angan-anganku. Siapa aku mengharapkanmu? Selalu pertanyaan itu yang terlintas.

Rabu, 20 Juni 2012

Appropriateness



Gambar diambil dari sini
Angin asik sekali memainkan anak rambutmu. Seperti juga ia asik memainkan dedaunan, menimbulkan bunyi gemerisik. Gemerisik yang seketika juga hadir di dadaku. Entah ini bagian kebiasaanmu atau ini kebetulan yang kesekian, kujumpai kau di salah satu bangku di taman kota. Pun untuk kesekian kali, aku menjaga jarak yang sangat ‘aman’ denganmu, terbukti kau tak pernah menyadari keberadaanku.

Aktivitas senjamu tetap sama, duduk bersisian dengan kamera SLRmu sembari berkonsentrasi pada kertas-kertas di hadapanmu. Sangat berkonsentrasi, hingga abai dengan keriuhan sekitar.  Wajahmu akan sedemikian rupa disapa matahari senja. Bibirmu terus bergerak-gerak, mungkin dari jarak yang dekat aku akan tahu suara yang terlahir sangat lirih. Terus begitu, serupa orang merapal mantra. Berhalaman-halaman kau lahap tanpa lelah, seperti aku yang tak juga lelah menyeksamaimu.

Minggu, 03 Juni 2012

Karena Aku Percaya


Gambar diambil dari sini
Senyumku mengembang saat mataku menumbuk sebuah kata dalam buku Undang-Undang Kesehatan. Kueja perlahan-lahan : Papaver somniferum. Tanaman yang mungkin namanya tidak banyak dikenal orang. Namun, efeknya luar  biasa. Sebut saja morfin, zat yang termasuk kelompok narkotika ini nyatanya diperoleh dari tanaman Papaver somniferum. Mampu melenyapkan rupa-rupa rasa sakit, mampu meniadakan nyeri paling hebat sekalipun. Dan tentu saja satu konsekuensi lain : menimbulkan ketergantungan, adiktif.

Seperti itulah kiranya perasaan ini, Fajar. Dalam dekapan malam yang teramat hening, kesadaranku menggenap. Inilah alasan aku tak merasakan sedikit pun sakit (atau mungkin sanggup mengabaikannya) saat dahulu kau katakan akan menikahi seorang gadis bernama Sarah. Nyatanya perasaan untukmu serupa morfin. Sanggup melenyapkan aneka perih. Kutemukan pula jawab, pantas saja aku tak pernah jera untuk mencintaimu, perasaan ini serupa ‘morfin’ : adiktif.

Selasa, 22 Mei 2012

Quote : Do What You Love, And Money Will Follow


Gambar diambil dari sini
Kau sibuk sekali dengan kamera SLR-mu. Jepret sana-sini. Aku berkali-kali menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Apa yang sedang kau lakukan? Aku mengedarkan pandang ke sekeliling, sementara kau masih terus memotret.

Sekelompok orang dari salah satu ormas Islam membawa spanduk-spanduk menentang perayaan Valentine. Halaman mall Bandung Indah Plaza ini jadi semakin sesak : oleh pengunjung dan demonstran. Seorang lelaki muda berorasi. Kau disana masih sibuk memotret. Aku disini mematung. Menyeksamai yang kau lakukan. Tak bergeser sedikit pun. Tanpa permintaanmu, aku menyediakan diri menunggu. Meskipun belum tentu kau menyadari keberadaanku.

Sabtu, 19 Mei 2012

‘Mikroskop’

Sinar matahari senja memeluk daun jendela. Membagi hangat pada kita yang masih mematung di beranda. Pohon jambu di halaman rumahku tampaknya mulai jemu menyaksikan kita yang terus membisu. Beberapa kali kutegakkan badanku. Lama sekali tak duduk denganmu hanya bersekat meja.

“Aku senang Tuhan mengabulkan doaku…”, kau mulai angkat bicara. Aku mendongak, menunggu kelanjutan kalimatmu. “Aku minta agar pada pertemuan berikutnya denganmu, kita bisa berdiskusi. Tak betah aku melihatmu terbaring di rumah sakit.”

Kamis, 17 Mei 2012

Monolog Rasa


Berkali-kali kau membuang nafas dengan kasar. Rusuh sekali. Ingin sekali aku bertanya : ada apa? Namun aku tak mampu. Aku memang tak bisa melihatmu, semata karena stok energi yang kupunya tak memadai meski sekedar untuk menggerakan kelopak mataku. Tanpa harus melihatmu aku tahu kau masih disana : duduk sembari membuang nafas dengan rusuh. Aku bisa merasakan dengan jelas kau masih di samping ranjangku.

Jumat, 27 April 2012

Fajar, Hatiku Berdenyar


Jika selama ini deskripsi untuk seorang lelaki baik adalah rapi. Aku tak pernah menganggap begitu. Meski –mungkin- banyak laki-laki rapi itu baik. Apapun itu, nyata bagiku tak begitu.

Kali pertama kita berjumpa kau anteng sekali dengan celana jeans coklat lusuhmu dan kaos. Ransel yang tampak berat sekali setia bertengger di bahumu. Sepatu yang tak kalah lusuh membalut kakimu.

Minggu, 15 April 2012

Fajar, Aku Benci Kau Melakukan Ini


Angin bertiup sepoi siang itu. Mendung masih setia mengawal langit. Aku memilih kursi yang terletak di sisi kanan kafe ini. Kafe ini terletak di Bandung Utara, menawarkan panorama kota Bandung dari ketinggian. Kukira panorama itu lebih diminati daripada menu makanannya sendiri.

Beberapa kali kutarik nafas dalam. Membiarkan paru-paruku mengembang terdesak udara yang bukan main sejuknya. Kali ini aku memilih secangkir kopi sebagai teman menghabiskan siang. Sengaja aku memilih tempat ini : ingin menghindar dari hiruk pikuk aktivitas yang kadang menyesakkan. Sekedar memanjakan jiwa kukira.

Beberapa kali aku mendekatkan gelas ke bibirku. Lalu membiarkan hangatnya kopi memanjakan bibirku, lidahku, kerongkongan, hingga tak berasa apapun sampai kemudian tiba-tiba perutku merasa hangat.

Nafasku tertahan beberapa detik. Tanganku masih menggenggam cangkir kopi, tapi tidak kudekatkan ke bibir ataupun kusimpan di meja. Hanya kugenggam. Aku disergap…entah disergap apa. Bingung sempurna membalutku. Berkali-kali kutajamkan pandangan, jelas sudah pandanganku tak keliru.

Lelaki muda dengan celana jeans dan kaos, ransel yang tampak berat masih setia di bahunya. Dan lelaki itu ada dalam jarak yang sangat dekat, hanya disekat oleh meja. Jantungku nyaris terlonjak dari tempatnya. Gegas kukemasi gugup yang nyata sudah mengepungku.

“Kamu disini, sama siapa?”, sampai tanya itu terlontar, aku belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Jiwaku masih tersesat di tempat antah berantah. “Nis!”, kulihat tangan bergerak-gerak persis di depan mataku.

“Ah..eung…iya..iya..kenapa?”

“Ngelamun ya?”, Tuhan, itu senyum? Benarkah kau membagi senyum itu untukku? Aku hanya balas tersenyum, tanpa bicara sepatah kata pun. Kau pun abai dengan jawaban yang tak kuberikan sepertinya. “Boleh aku duduk disini?”, aku hanya menjawab dengan anggukan, lagi-lagi tanpa ada kata terlontar.

Aku tak pernah membayangkan, setelah hari itu kita akan bertemu lagi. Sama sekali tak pernah terlintas dalam imajiku, kita akan duduk satu meja seperti ini.
Kegugupan itu sempurna sudah jadi milikku. Kau sungguh semena-mena membuatku salah tingkah begini, gerutuku dalam hati.

Kau masih cuek membolak-balik daftar menu. Setelah beberapa menit, kau memesan segelas kopi. Hei selera kita sama! Jangan tanyakan kenapa, tapi aku bahagia mendapati hal ini.

Kau membagi pandanganmu : aku, lalu kota Bandung. Terus begitu. Lalu tersenyum. Tak ada yang lucu menurutku. Aku tak berminat ikut tersenyum. Keringat membasahiku. Gugup masih betah mendampingiku.

Kau menarik nafas. Menghembuskannya. Beberapa kali kau lakukan. Sesekali kau memejam mata. Lalu tersenyum. Keningku berlipat melihat tingkahmu.
“Kamu kenapa?”, tanyaku akhirnya, setelah rasa heran sempurna melingkupiku.

Kau tersenyum, memandang bangunan nun jauh disana yang terlihat seperti kotak-kotak dari sini, lalu menatapku. Kau menatapku. Tatapanmu menghujam manik mataku. Aku benci kau melakukan itu, sempurna kegugupan mengerangkengku.

“Kau ikuti aku.”, katamu. Kau menarik nafas sambil memejam mata. Entah mengapa aku pasrah mengikutimu : menarik nafas sembari memejam mata.

“Menurutmu apa yang kita hirup?”

Sejenak aku diam. Mencoba menerka kemana pembicaraan ini akan kau bawa. Untuk kesekian kalinya aku menggerutu. Kau ini semena-mena sekali, ini kan baru kali kedua kita bertemu, tapi kau berbuat sesuka hatimu. Terlebih tahukah kau, dari jarak jauh begini kau sanggup mengaduk hatiku. Huh!

“Udara.”, jawabku kemudian.

Kau tersenyum, tampak puas dengan jawaban yang kuberikan. “Dan kau pasti tahu kalau kita butuh oksigen kan?”, aku mengangguk. “Menurutmu udara yang kita hirup keseluruhannya oksigen?”, kali ini aku menggeleng.

“Ada unsur lain, seperti nitrogen, helium, karbon dioksida.”

Kembali kau tersenyum, raut puas semakin tergambar jelas di wajahmu. “Kamu benar. Dan udara itu masuk dari hidung, tenggorokan, baru kemudian ke paru-paru. Setelah sampai paru-paru oksigen berikatan dengan darah, bukan?”, kau menjeda kalimatmu memberi ruang padaku untuk merespon. Hanya anggukan yang kuberikan. “Tapi kita tidak pernah repot untuk membedakan mana oksigen dan mana gas yang lain. Kita hirup udara yang beragam isinya, tapi sistem pernafasan kita sanggup melakukan seleksi otomatis.”, Kau berhenti sejenak. Memejam mata dan menghirup nafas dalam. “Bukankah ini nikmat? Betapa Tuhan begitu luar biasa mengatur semuanya.”, kau tutup kuliahmu yang tiba-tiba ini dengan senyum dan sejurus kemudian kau mulai sibuk menyeruput kopi yang asapnya masih mengepul.

Aku benci kau melakukan ini. Semena-mena sekali kau ambil perasaanku sekerat demi sekerat. Sekarang hatiku mulai hilang beberapa bagian. Aku juga tak tahu kau menyembunyikan bagian-bagian hatiku itu dimana. Fajar, aku benci kau melakukan ini.
Ini baru kali kedua kita bertemu, tidak sengaja.


Kamar Sunyi, 15 April 2012
~Icha Planifolia~

Perkenalan


Jika selama ini deskripsi untuk seorang lelaki baik adalah rapi. Aku tak pernah menganggap begitu. Meski –mungkin- banyak laki-laki rapi itu baik. Apapun itu, nyata bagiku tak begitu.

Kali pertama kita berjumpa kau anteng sekali dengan celana jeans coklat lusuhmu dan kaos. Ransel yang tampak berat sekali setia bertengger di bahumu. Sepatu yang tak kalah lusuh membalut kakimu.

“Fajar.”, singkat saja perkenalanmu.

Sekarang aku mengutuki kejadian itu. Kau tahu kenapa, Fajar? Karena setelah hari itu, wajah dinginmu memasung asaku. Wajah dinginmu menari di atap kamarku, membuat aku lupa bagaimana cara dibuai mimpi.

Aku seksamai dirimu hari itu. Kulitmu yang coklat menunjukkan seringnya kau berada dibawah sengatan matahari. Wajah dan kata-katamu yang lebih sering “dingin” membuat gelar “arogan” resmi disematkan padamu.

Malam ini, di penghujungnya, aku masih setia merajuk pada Tuhan. Aku masih setia mendoakan keselamatanmu, Fajar. Entahlah. Mengapa aku melakukan ini? Mengapa diantara dinginnya malam yang menyucuk, aku menyengaja bangun, memilih merajuk pada Tuhan dan menanggalkan hangatnya selimut. Apakah ini untukmu? Aku tak punya stok jawaban. Aku sungguh tak tahu. Jadi, kumohon jangan pernah tanyakan. Biarkan aku membersamaimu dalam doa.

Aku pun masih tak tahu, benarkah cinta pada pandangan pertama itu ada? Hanya ketidakmengertian yang mendekapku.

Benar-benar sibuk aku mencari alasan, kalau aku memang jatuh cinta padamu Fajar, atas dasar apa itu terjadi? Kenapa aku harus memberikan perasaanku padamu?, orang yang baru kujumpai satu kali dan baru kukenal. Hening.

Ah, kukira aku perlu berdamai dengan keadaan. Toh tak semua hal di dunia ini butuh alasan.



Kamar Sunyi, 14 April 2012
~Icha Planifolia~