Tampilkan postingan dengan label Ruang Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Sahabat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Aku Memanggilnya Sahabat


:Rieska Ratna Wulan Permana
 
Gambal diambil dari sini

[2001-2004]
Kita menceracau dalam gelegak keremajaan
Membuka paksa brankas-brankas
yang menyimpan rapi tiap jengkal penasaran
Mengenali ke-aku-an
Mengenali cinta bersama monyet-monyet
Membual tentang masa depan
Mengais kesenangan serupa naik bianglala pada kali pertama
Mereguk kepuasan serupa manisnya Coca cola
atau mungkin kopi, bahkan keduanya.

Sekarung Cinta


: Mutiara Kesuma

Siang menjelma lengkung-lengkung bisu
Hari yang penuh menjadi milik kita
Bersama debu yang menyuguhkan secangkir lesu
Terpaksa kuteguk karena dahaga kerongkonganku
Bersama gelas-gelas kaca yang berdendang tentang resah
Terpaksa kupecahkan dan kubiarkan memuncrat darah dari
kupunya jari tangan

Jumat, 20 April 2012

Markisyum...lalalala


Hmm…sepertinya tugas akhir itu memang membuat otak agak “miring”. Setidaknya itu yang aku simpulkan hari ini. Selain kesimpulan lain : Secangkir semangat = 250 cc persahabatan + sesendok tawa manis. :)

Kantin Kampus, 10.30 pagi…
Ries datang dengan seember keluhan tentang biaya kuliah yang tiba-tiba naik. Kuulangi : tiba-tiba naik. Come on! Ini sudah menjelang ujian tengah semester, bagaimana bisa ada kenaikan biaya kuliah di pertengahan semester begini. Sejurus kedepan soal kenaikan biaya kuliah ini menjadi running topic.

Memang dasar makanan melenakan. Maka, setelah cuanki seafood (Pesanan Ries, Isyum dan Cuntil), nasi gudeg (pesananku), dan pempek (pesanan Biri) –masih ditambah tiga gelas es jeruk lemon dan dua botol air mineral- terhidang di meja kami, perlahan kami terbius. Pembicaraan tentang kenaikan biaya kuliah itu –yang kuingat- ditutup dengan :

“Kayaknya aku bayar sisa uangnya hari senin.”, kataku lebih semacam pengumuman.

“Oh ya sudah, bareng ya, Cha?”, sambar Ries. Aku mengangguk, mengiyakan. Mulutku tidak bisa sekedar mengatakan iya, geraknya tertahan gudeg dan ayam goreng yang aduhai rasanya. Hehe.

Isyum tampak panik. “Huah…gimana dong? Kan kemarin jatah uang kuliah lebih, kata papa kelebihan uang itu buat aku.” Dia menjeda kalimatnya. “Nah, uangnya udah aku pakai belanja. Sekarang uang kuliah malah kurang. Darimana tah ganti uang itu?”, bibir Isyum mengerucut, pipinya memerah. Tiap kali panik memang pipinya suka tiba-tiba “matang”.

Biri menatap Isyum dengan tatapan “masalah buat gue?”. Tidak cukup sampai sini : aku, Ries, dan Cuntil saling lirik, kemudian “hahahaha”. Puas! 

“Jual aja tas baru kamu!”, seloroh Ries.

Disambut dengan bibir Isyum yang semakin ‘maju’. Dan kejadian selanjutnya mudah ditebak : aku, Biri, dan Cuntil tertawa riang. Kuperingatkan “Don’t try this at home!”. Tidak baik berbahagia di atas penderitaan teman. Kecuali jika teman anda adalah Isyum. Hehe.

Dan nyam…nyam…nyam. Kami sibuk melahap makanan yang –saat ini- lebih menarik ketimbang apapun. Sambil obrolan diantara kami terus bergulir. Tibalah kami pada obrolan dalam ranah tugas akhir. Membicarakan tugas akhir kami dan teman-teman yang lain. Sampai pada membincang soal gel; salah satu bentuk sediaan farmasi.

“Eh, jel-nya Uma (salah satu teman kami) warna coklat, kenyal-kenyal…”, celetuk Ries, tiba-tiba.

Aku iseng menimpali. “Wow…coklat kenyal! Hahaha.”

Seketika Biri dan Cuntil menatapku, menyilet sekali tatapan mereka, tapi tawa yang ditahan itu tak bisa disembunyikan. “Mulai…mulai…”, kata mereka sambil jari telunjuk mereka tegak. Gerakan mirip ibu-ibu sedang melarang anak TK. Aku nyengir. Sepertinya masing-masing punya interpretasi sendiri dengan frase “coklat kenyal” itu. Terbukti :

“Jel-nya mirip ongol-ongol. Kalian tahu ongol-ongol?”, sambung Ries kemudian.

Dengan PD tingkat kotamadya Biri menjawab, “Tahu. Ongol-ongol itu yang dibikin dari singkong atau ubi, kan?”

“Bukan!”, aku dan Ries protes. “Dari aci tahu!.”, Ries meluruskan.

“Lah, bukan dari singkong atau ubi?”, Biri nyengir. “Eh, bukannya yang dari aci namanya Ciu?”

“Iya…iya, Bir, Ciu. Aku tahu. Ciu itu aci yang pakai bawang, kan?”, kali ini Cuntil turut menimpali.

Aku gemas juga, “Wew ah! Itu Ciwang tahu!”

Kacau! Kami kompak : Hahaha.

Seolah ada kesepakatan –tanpa materai dan tidak disaksikan notaris- obrolan bergulir seputar pangan tradisional.

“Kalian tahu kelepon?”, Biri mengajukan ‘kuis’.

Isyum menjawab mantap. Kuulangi :mantap. “Tahu.”, disusul anggukan aku, Ries, dan Cuntil, menandakan kami pun tahu.

“Apa?”, tantang Ries kepada Isyum. Kami curiga dengan jawaban mantap Isyum. Benar saja kecurigaan kami terbukti.

“Aku tahu, kelepon itu yang mirip ondel-ondel, kan?”

What? Kelepon mirip ondel-ondel? Kuulangi : kelepon mirip ondel-ondel. Anda semua –saya kira- tahu kue kelepon. Dan ondel-ondel –saya kira- anda juga tahu. 

Kelepon yang berupa kue berwarna hijau atau oranye didalamnya terdapat gula merah serta ditaburi kelapa di bagian luarnya. Betul? Mari beralih pada ondel-ondel, boneka dengan tinggi kira-kira 2,5 meter dengan garis tengah sekitar 80 cm, dibuat dari anyaman bambu, bagian wajahnya berupa topeng, rambutnya dibuat dari ijuk, serta sering ditampilkan pada pesta rakyat betawi. Baiklah, sidang pembaca yang terhormat, dapatkah anda menemukan kemiripan antara kelepon dengan ondel-ondel?

“Itu mah budaya betawi, None! Hahaha.”, timpalku.

Hahaha. Disambut tawa yang lain (kecuali Isyum tentu saja). Isyum tampak berfikir sejenak, mungkin menelusuri: apa yang salah dengan kalimatnya?

“Ah iya…iya..”, seolah Isyum dapat ide cemerlang. Seolah loh ya! “Maksud aku onde-onde.”

“Ih bukan!”, protes Ries, disampingku Cuntil sudah mulai terpingkal dipelintir tawa.

Tapi sidang pembaca yang terhormat, ke-PD-an Isyum masih di tingkat nasional. Hoho. “Iya! Onde-onde sama dengan telepon.”, lanjut Isyum masih membela jawabannya.

Kali ini Biri angkat bicara, “Ih lagian bukan telepon Isyum, tapi kelepon.”

Isyum dengan tampang sok cantik kembali menjawab dengan lambat-lambat, “Iya, onde-onde itu sama dengan telepon.”

Wah…wah…sepertinya mengajak kita untuk keringetan. “Kelepon Isyum! K-e-l-e-p-o-n!”, full volume suara Biri. Hahaha. Parah!

“Huh, aku kan bukan orang sini, gak ngerti aku.”, kata Isyum akhirnya.

“Yeee…kalau gak ngerti kenapa jawab dengan PD dan sok tahu?”, sahut Ries disela tawa. Ya terang saja, kami (kecuali Isyum) tertawa panjang…sangat panjang. Puas! Hahaha.

“Okelah berhubung Isyum orang padang, kita tes tentang kuliner padang aja.”, yang ini usul Biri. Bau konspirasi tak tertulis segera memenuhi ruangan kantin. Hehe.

“Oke, kamu tahu makanan yang dari ketan itu? Khas padang itu.”, tantang Ries. Aku dan Cuntil masih sibuk mengemas tawa kami, sumpah sakit perut!

Kali ini masih PD, Isyum menjawab dengan “anggun”, “Itu sih gak usah jauh-jauh ke Padang, sebelum Ciater juga banyak, bumbunya pedes, kan?”. Gubrak!

“Itu sih ketan bakar!”, kami kompak. Kemudian saling menimpali.

“Gak usah ke ciater, kalau ketan bakar sih di pasar antri juga banyak.”, Cuntil angkat suara.

“Di cihanjuang juga ada.”, belum puas Ries menimpali.

“Hmm…itu sih depan rumah kau juga ada.”, ini suara Biri.

Alamak! Markisyum…lalalala! Itu galamai, kawan! Galamai ini makanan khas padang yang mirip dodol, dibuat dari tepung ketan, dicampur dengan gula. Garis bawahi : gula ya bukan bumbu pedas. Hahaha.

Isengku mulai kumat (dari tadi sebenarnya sudah kumat sih. Hehe). “Kamu kalau gini mau dideportasi ke Padang juga takut gak diakui warga sana. Hahaha.”

“Iya nih, di Bandung gak ngerti Bandung, di Padang gak ngerti Padang, kalau gini sih gak diakui dimana-mana.”, kata Cuntil ditutup tawa kami yang nyaring, senyaring-nyaringnya. Aku kira akan berakhir disini. Ternyata Cuntil melancarkan serangan berikutnya. “Tahu gak kalian, Isyum akan melakukan apa begitu sampai rumah?”

Kami hening. Menunggu jawaban Cuntil. “Dia akan menemui papanya dan berkata ‘papa, mengapa aku berbeda?’ dengan nada mirip temennya Sinchan yang ingusan itu loh.”, sejenak kami berimajinasi, dan hahaha.

Jangan tanya bagaimana ekspresi Isyum. Sungguh salah tingkah dia. Dan hanya bisa memelas. "Kaliaaaannnn!". Kami? Tetep : hahahaha.

Ya Tuhan…ternyata obat galau tugas akhir ada di depan mata. Sungguh kami kurang bersyukur. Kesimpulan hari ini : Secangkir semangat = 250 cc persahabatan + sesendok tawa manis. :)

Love u Isyum, Cuntil, Biri, Ries… 
*Hug n Kiss
(To be continue…masih banyak kisah konyol lain, di episode berikutnya mungkin tentang Isyum yang coba bernyanyi tembang Sunda, si Padang yang satu ini memang PD gila! Hahaha. Atau tentang pertemuan dengan 'perawan tua', atau soal si Kibas, ya kita lihat saja nanti. Hehe.)

Kamar Sunyi, 20 April 2012
~Icha Planifolia~








Rabu, 11 April 2012

Surat Untuk Sahabatku

Bismillahirrahmanirrahiim…
Mungkin pertanyaan pertama yang muncul adalah untuk apa membuat tulisan ini. Sejujurnya aku menulis dengan memelas, agar pertanyaan itu tak ada. Karena aku tak memiliki stok jawaban untuk apa tulisan ini dibuat. Aku hanya ingin membuatnya. Itu saja.

Aku berjalan mundur, menjejaki waktu yang kandas kita lalui. Hampir dua tahun bukan? Hampir dua tahun kita sudi membagi langkah demi wajah kita berpaut dalam lingkaran hikmah, liqo, halaqah yang manis.

~Sun~
Waktu menyeret kita dalam pusarannya. Hingga hampir genap tujuh tahun sudah kita bertukar kisah, bertukar canda, bertukar entah apa lagi. Mungkin bertukar rasa kesal, mungkin sesekali bertukar rasa iba. Entah apa lagi. Kita “mencicipi” proses perkenalan yang panjang. Aku mencoba “memutar video” kebersamaan kita. Tak kutemukan apapun, kecuali kebaikanmu dan segala kekuranganku. Pengertianmu dan segala kesemena-menaanku. Perhatianmu dan semua abaiku. Nafas kubuang dengan kasar. Saat kesadaranku bermuara : aku tak mau kehilanganmu. Ternyata disana, bagian paling dasar hatiku memiliki cinta, untukmu Sun. Salah satu sahabat terbaik yang sudah Tuhan kirim untukku.

Tidak. Tak ada kata terimakasih yang akan kuucapkan. Karena kutahu tak cukup. Kata itu tak cukup. Aku tidak tahu dengan cara apa cinta ini harus kuekspresikan. Aku yang pemetafora, maka aku hanya bisa menghambur-hamburkan kata-kata.

~Teh Mega~
Kuawali paragraf ini dengan senyum sederhana. Tubuhku masih tegap dihadapan layar laptop, namun ingatanku sudah tak ditempatnya. Melayang pada malam itu. Saat kali pertama kita menyibak belukar untuk mengenal-Nya. Malam yang kukatakan, salah satu malam paling penting dalam hidupku. Kita bertukar kisah, bertukar air mata, bertukar doa, dan entah apa lagi.

Kita sibuk merajuk pada Tuhan agar berkenan membagi kasih-Nya untuk kita yang lemah. Dan hari-hari berikutnya adalah hari-hari penuh pengertianmu, Teh.  Hari-hari penuh kebaikanmu.  Aku menyaksikan dengan mata kepalaku tentang kuasa Tuhan menolong hamba-Nya. Berbagai keajaiban kupelajari, tak lain dari kisah hidupmu. Apa lagi yang harus kupunya selain rasa syukur telah dipertemukan denganmu yang begitu luar biasa. Hingga dengan sangat perlahan, tapi penuh kepastian terdeteksi juga rasa itu. Rasa cinta yang bersembunyi di bagian hatiku, di palungnya mungkin.

Aku juga tak akan mengucapkan terimakasih. Karena sudah jelas tak memadai kata itu.  Aku tidak tahu dengan cara apa cinta ini harus kuekspresikan. Aku yang pemetafora, maka aku hanya bisa menghambur-hamburkan kata-kata.

~Teh Nie~
Berapa lama kita bersama? Belum lama. Aku pun belum mengenalmu dengan purna, aku yakin begitu pun dengan dirimu. Tapi, singkatnya waktu tak jadi soal. Toh, aku tetap merasa kau adalah kakak, kadang ibu, apa pun itu. Yang pasti dari dirimu aku banyak belajar. Kau pun adalah salah satu alasan untuk lebih giat membuat esokku lebih baik. Kau selalu datang dengan prestasi baru, dengan hafalan yang jumlahnya selalu membuat aku sesak, dengan kesungguhan yang berujung iri di sisi-sisi hatiku, ingin sekali mengejarmu pada garis “finish” kebaikan. Berlomba. Menyenangkan punya rival sekaligus kakak sepertimu.

Kiranya kita mengamini bahwa pepatah jawa itu benar adanya, “witing tresno jalaran soko kulino”. Aku terbiasa dengan segala kebaikanmu, perhatianmu, keberadaanmu, dan Tuhan berikan sejumput cinta. Jangan tanya pada bagian hati yang mana, aku tak tahu. Yang pasti tersimpan baik disini, dihatiku.

Sekarang apa yang harus aku ucapkan? Terimakasih? Ah, terlalu sederhana kata itu jika harus diberikan atas kesediannmu membersamaiku. Aku tidak tahu dengan cara apa cinta ini harus kuekspresikan. Aku yang pemetafora, maka aku hanya bisa menghambur-hamburkan kata-kata.

~Teh Sisy~
Hmm…jika aku boleh jujur, aku kehabisan stok kata-kata saat harus mengembarakan imajiku tentang perempuan –yang dimataku- luar biasa ini. Pundas sudah kata-kataku tenggelam dalam pesona. Kelurusan perilaku yang tak terbantahkan. Aku yakin sun, Teh mega, Teh Nie sepakat denganku.

Kesadaranku terkumpul dengan purna saat Teh Sisy berangkat ke tanah suci. Ternyata jauh di hatiku yang paling sudut aku memiliki cinta, untuk Teh Sisy. Cinta yang entah sejak kapan ada disana. Ternyata saat jauh, saat digantikan…saat itulah aku sadar, kebersamaan ini telah mengajakku merasakan kenikmatan cinta yang sungguh manis. Melebihi coklat dan madu sekalipun. Lebih. Tentu lebih dari itu. “Teteh luar biasa memberi warna dalam hidupku.” Tak yakin aku menuliskan kalimat tadi. Karena sesungguhnya, kenyataannya lebih dari itu.

Lagi-lagi aku tak akan mengucapkan terimakasih. Tak cukup. Tak memadai. Kuulangi sekali lagi, aku tidak tahu dengan cara apa cinta ini harus kuekspresikan. Aku yang pemetafora, maka aku hanya bisa menghambur-hamburkan kata-kata.

Kini aku sungguh-sungguh belajar dari semut rangrang. Yang dilakukannya hanya satu; saling menopang untuk menyebrangi jurang. Begitulah ukhuwah mengajarkan kita, karena kita adalah saudara.


Kamar Sunyi, 11 April 2012
~Icha Planifolia~